Sepotong Hati

Suara lengkingan peluit penanda kereta api kan berjalan membangunkanku dari lamunan.  Air mataku mengalir deras seakan hatiku tak ingin meningglakan kota yang penuh dengan kenangan anatara aku dan dia. Langkahku semakin berat ketika kakiku  menapak di mulut pintu gerbong. Aku tidak melihat sosoknya, sosok laki-laki yang telah setahun ini membuatku jatuh cinta kepadanya. Hanya sahabat-sahabatku yang setia mengantarkanku. Pikiranku gamang…
***
6 bulan lalu
            “Kamu mau nggak jadi pacar aku?”
            “Hah, apa? Kamu serius?” jawabku  tanpa pikir panjang
            “Aku serius Vira. Aku uda suka kamu dari pertama ketemu. Ya, waktu mos aku ingat kamu itu adik kelas yang paling menyita perhatianku. Sejak itu aku selalu memperhatikanmu. Mencari fbmu, minta nomermu. Ya bisa dibilang cinta pada pandangan pertama” kata Rendy sumringah penuh dengan harapan.
            “Oh…” jawabanku penuh dengan salah tingkah.
            “Kok oh? Jadi gmana? Kamu mau ga jadi pacarku?
            Aku hanya mengangguk dan tersenyum , mengisyaratkan bahwa aku ingin memnjadi teman yang special di hatinya. Sebenarnnya aku juga merasakan hal yang sama aku sudah menantinya selama enam bulan dan akhirnya tuhan menjawab doaku.
***
            Seminggu telah berlalu kenangan akan rendy tak pernah terlupakan.  Sejak dua minggu yang lalu rendy tidak pernah mengabariku, bahkan smsku tidak pernah dia balas lagi. Aku takut, apa yang terjadi sma dia? Apa dia sangat marah kepadaku? setelah pertemuan yang terakhir kami dalam masalah. Dan sebenarnya masalah kami hanya sepele. Terjadi salah paham di antara kami, malam itu aku ingin sekali menghabiskan malam bersamanya dengan makan  dan mengobrol bersamanya mengingat satu minggu lagi aku akan berangkat ke Jakarta. Sedangkan Rendy, ia bersikeras  mengajakku menonton di bioskop, menurutku kegiatan itu akan menghabiskan waktu selama dua jam dengan tidak mengobrol sedikitpun. Namun sayang kemauan Rendy tidak dapat terbantahkan lagi. Entah ada apa denganku. aku sangat marah dengan kemauannya. Aku meniinggalkannya  sendiri disana, kemudian kami tidak pernah bertemu lagi.
***
            “Ren, gimana kalo suatu saat nanti aku ninggalin kamu?”
            “Maksud kamu Vir?”
            “Maaf, aku baru ngomongin ini sama kamu? Aku berat banget ngomongin ini sama kamu” air mataku mulai mengalir.
            “Kamu mau ngomong apa sih sayang? Ngomong aja. Aku ga bakal marah kok” senyum manis Rendy tersirat dari wajahnya ketika ia menyeka air mataku.
            “……sebenarnya satu bulan lagi aku bakalan pindah ke Jakarta, aku ikut ayahku yang dipindahtugaskan disana. Maaf aku baru ngomongin masalah ini ke kamu. Sebenernya aku ga mau ninggalin kamu dan temen-temenku” air mataku semakin mengalir deras
            Suasana hening seketika, Rendy terdiam. Hanya ada suara dari kendaraan bermotor di depan rumah. Sepertinya ia terpukul sama seperti pertama kali aku mendengar keputusan ini dari kedua orang tuaku. Tiba-tiba dalam keheningan..
            “A..aku ga papa kok kalo kamu harus pindah kesana. Kamu baik-baik ya disana” jawab Rendy dengan terputus-putus.
            “Makasih ya Ren”… “terus hubungan kita gimana?”
            “Kita jalani dulu aja ya, aku harap sebulan ini kita punya kenangan yang manis” senyumnya yang tak akan pernah kulupakan mengembang dari wajahnya yang manis.
***
            Sepulang sekolah aku mendapat telepon dari sahabatku di Malang, Karina. Aku sangat antusias menerima telepon itu berharap mendapat kabar tentang Rendy. Benar sekali Karina menelponku untuk meritahu kabar tentang Rendy yang telah aku tunggu selama ini. Tapi…. Senyumku yang melebar berubah seketika. Karina mengabarkan saat hari keberangkatanku ke Jakarta Rendy mengalami kecelakaan yang cukup parah, ia mengegas sepeda motornya dengan kencang agar ia tidak telat mengantarkanku. Ditengah perjalanan ia menabrak truk dari arah yang berlawanan. Hingga ia mengalami koma hingga hari ini. Aku sangat gterpukul aku tidak percaya rendy akan mengalami hal seperti ini. Aku hanya bisa menangis dan tidak berkata sedikitpun. Rendyku sayang, Rendyku malang ia kecelakaan, dan itu semua gara-gara aku.
             Akhirnya aku memutuskan pergi ke Malang malam harinya bersama kedua orang tuaku. Aku tidak tenang, sepanjang perjalanan aku hanya memandangi foto kami berdua di layar handphone dan menangis. Di tengah perjalanan Karina kembali menelponku. Ia mengabarkan bahwa Rendy telah tiada, ia meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku menjerit dalam hati tidak percaya, rendy adalah sosok yang pertama kali mengajarkanku tentang cinta. Tak sepantasnya ia meninggalkanku seperti ini. Aku sangat menyesal. Tak ada lagi seseorang yang akan mengajariku tentang ketegaran hati. Kini hanya tinggal kenangan indahku bersamanya. Tidak ada lagi sosoknya. Aku akan selalu mengingat hari-hari indah bersamanya. Senyumnya, wajahnya akan aku simpan dalam memoriku. Dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Sepotong hatiku yang hilang bersama kepergiannya. Aku mencintaimu sampai kapanpun. Dan aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk…….

ningrumdasilva-020611

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

0 komentar:

Poskan Komentar